Gelar Pameran Seni di Bioskop Usang, Cara Tisna Sanjaya Hidupkan Kembali Cagar Budaya

seniman bandung

Seniman kenamaan asal Bandung Tisna Sanjaya menggelar pameran tunggal proyek seni bertajuk Dian Lentera Budaya. Seperti pada pameran-pameran lainnya, pameran ini juga diselenggarakan secara virtual sejak 20 Desember 2020 hingga 28 Januari 2021 di eks bioskop Dian yang berlokasi di Jalan Balonggede, Bandung.

Real museums are places where time is transformed into space.

– Orhan Pamuk

Dalam pamerannya ini, terdapat 18 karya seni yang ditampilkan oleh Tisna. Seniman asal Bandung ini juga mengakui bahwa pamerannya tersebut bisa tergelar setelah melalui proses perenungannya selama masa pandemi beberapa bulan ke belakang ini.

Tisna juga menuturkan alasan dirinya memilih eks bioskop Dian sebagai tempat pagelaran seninya karena ia memiliki keterikatan dengan tempat tersebut. Saat kecil, ia kerap diajak untuk menonton film di eks bioskop Dian.

“Saya sering diajak menonton film India, silat, dan film Indonesia oleh orang tua saya. Nilai yang sangat bermakna dari peristiwa seni budaya diajarkan kepada proses imajinasi dan kreativitas dari bioskop Dian,” ungkap Tisna seperti yang dilansir dari detikcom.

pameran virtual bandung
instagram.com/__artcase__

 

Tisna juga mengaku bahwa dirinya cukup prihatin dengan kondisi eks bioskop Dian saat ini. Hal ini karena tempat yang bersejarah di Bandung tersebut semakin harinya semakin tidak terawat. Ia juga mengaku menyayangkan karena lokasi eks bioskop Dian terbilang sangat strategis.

‚ÄúSatu jengkal dari pendopo punya pemimpin kota ini, di sebelahnya ada alun-alun dan Masjid Agung Bandung. Di sebelahnya lagi, ada gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika,” tambah Tisna.

pameran seni bandung
instagram.com/__artcase__

 

Tisna yang menganggap eks bioskop Dian sebagai cagar budaya tersebut mengharapkan bahwa tempat tersebut bisa lebih dimanfaatkan dan berubah menjadi pusat kebudayaan dunia. Tak hanya itu, ia juga mengharapkan bahwa cagar budaya yang awalnya hanya memiliki nilai lokal berubah jadi global.

“Seni itu punya rasa, rasio, dan iman. Ini yang menjadi landasan seni buat saya, kenapa ruangan ini rusak? Menurut saya, ini bukan sesuatu yang paling benar. Seni bisa berubah terus, seni untuk daya perubahan,” tutup Tisna.